Anak Aneh Itu
by: Jenny Pirkle
from: Teen Ink; Love and Relationship
Tidak terlalu banyak pengunjung, mungkin hanya sekitar tiga puluh orang, dan tak seorang pun memperhatikan panggung kecil itu. Aku maju lebih dekat, mencari jalan di antara meja-meja kecil yang tampak kepayahan menunjang payung-payung raksasa, meski waktu itu sudah gelap dan langit yang hitam, dengan beberapa percikan bintang di sana-sini, tidak menunjukkan tanda-tanda akan hujan.
Entah apa yang menarikku untuk maju ke barisan paling depan, hanya saja aku merasakan tatapan aneh itu, yang berpindah-pindah dari bibir ke mataku, lalu kembali lagi. Tatapan itu asalnya dari anak lelaki berpenampilan aneh, berhidung besar, yang duduk di pinggir panggung. Dia mengenakan jaket jeans, T-shirt hitam, dan celana jeans longgar. Kulit pucatnya hampir-hampir tampak kuning dalam sorotan lampu-lampu jalanan. Rambutnya hitam sekali, dan terjuntai hingga ke sepasang mata hijau paling indah yang pernah kulihat.
Rambut dia bagus, sementara aku tidak. Aku tersandung batu-batu kerikil, karena terlalu terhanyut dalam perasaan dekat yang tak terucapkan ini. Waktu aku mengangkat wajah lagi, dia sudah tidak ada. Aku maju beberapa langkah, dan menemukan dia di depan panggung, sedang menyingkirkan kaleng susu yang berfungsi sebagai tempat koin untuk band-nya, seolah hendak menyatakan bahwa dia tak mau menerima uang untuk apa yang akan dilakukannya.
Nada gitar terakhir dalam lagu itu makin pelan ketika seorang anak lelaki membisikkan "terima kasih" ke mikrofon dan tersenyum pada dua atau tiga orang yang memberikan tepuk tangan. Lalu dia menoleh sekilas pada si anak berpenampilan aneh itu dan mengangguk sedikit. Anak itu balas mengangguk, hampir-hampir tidak kentara, lalu melompat ke panggung untuk bergabung dengan si pemain gitar merangkap penyanyi, si pemain saksofon dan drum. Lalu anak berpenampilan aneh itu mengeluarkan biolanya dari kotak dan mulai menggosok-gosokkan penggeseknya pada senar-senar biola dengan sangat lembut, hingga aku bertanya-tanya apakah dia punya semacam ikatan yang tidak sehat dengan benda itu.
Aku langsung tahu lagu yang dimainkannya; lagu Dave Matthews. etiga anak lainnya bermain cukup bagus untuk ukuran remaja, membangun nada-nada hingga ke satu titik yang membuatku yakin i pemain biola akan beraksi. Benar saja; dia masuk dengan sempurna, gerakannya begitu alami hingga seolah dia tidak bergerak sama sekali.
Aku yakin para anggota band lainnya masih terus bermain, dann aku juga yakin orang-orang di belakangku tidak berhenti mengobrol untuk menikmati pertunjukan itu. Aku positif bahwa saat ini masih malam di Savannah, Georgia, dan aku tidak ragu sedikitpun bahwa anak berpenampilan aneh itu bermain hanya untuk satu orang. Namun, begitu musik mengalir dari tangannya, bad itu terdia, orang-orang juga terdiam. Jalanan serasa dibanjiri oleh cahaya yang paling terang.
Anak itu memainkan biolanya hanya untukku.
Dan untuk dirinya sendiri. Dengan segera kusadari bahwa cahaya yang menyelimuti kami berdua terpancar lagsung dari sepasang mata hijaunya yang menakjubkan itu, bukti dari api yang berkobar terang did alam dirinya. Cahaya itu bagaikan bola yang mengangkat kami ke angkasa untuk bersatu dengan bintang-bintang dan bergabung dengan orkestra langit yang bermain begitu dahsyat hingga hanya telinga mereka sendiri yang sanggup mengikuti nada-nada tak kentara itu. Gerak-gerik anak itu begitu luwes hingga aku nyaris tak percaya dia menghasilkan musik itu melalui alat yang dimainkannya, sebab kubayangkan dia sekedar memerintahkan nada-nada itu untuk terjadi begitu saja.
Sementara itu, aku sendiri tak punya alat musik. Aku hanya bisa eksis, berdiri terpaku, terbakar api talentanya.
Dia terus bermain.
Dia memainkan biolanya, dan tidak penting lagi bahwa dia hanyalah anak lelaki berpenampilan aneh. Dia terus bermain, dan dia tak peduli bahwa kaleng susunya masih tetap kosong, tersembunyi dari pandangan. Dia terus bermain, dan jalanan serasa terbuat dari emas, dan bintang-bintang di atas Savannah adalah penontonnya, dan sahabat-sahabatnay. Ketika dia menatapku lagi dengan sorot mata bening itu, aku jatuh cinta padanya akrena dia telah membuktikan bahwa kalau kita benar-benar mencintai hidup, hidung besar dan kaleng susu yang kosong tidak lagi penting.
Akhirnya, ketika aku kembali bisa merasakan jalanan di bawahku, kucari dia, tapi dia sudah pergi. Seorang anak lelaki lain membisikkan "terima kasih" ke mikrofon dan tersenyum pada dua atau tiga orang yang bertepuk tangan.
blog ini seperti perasaan kita saat melihat teman merokok di umur berapapun, AWKWARD !
Selasa, 06 Maret 2012
Senin, 05 Maret 2012
Kembali Hidup
Kembali Hidup
by: George L. Newton III
from: Teen In; Love and Relationship
Sebelum mengenal dia, aku tidak tahu arti kehidupan. Ucapan-ucapan yang kulontarkan membuat orang-orang menjauhiku. Hari demi hari aku berbicara tentang kehidupan seolah-olah kehidupan itu adalah benda mati yang menarik minatku dengan cara yang paling abstrak. Aku hanyalah rongga kosong yang diisi oleh ucapan-ucapan orang lain. Aku domba yang dengan mudahnya dituntun kemana saja.
Aku mengisi kepalaku dengan kebohongan-kebohongan. Aku bisa meyakinkan diriku," Aku tidak kesepian. Aku tidak butuh cinta." Tapi dia bisa membaca isi hatiku sesungguhnya. Dia mencoba menarikku kembali ke dalam kehidupan, tapi aku bertahan. Aku tak sanggup merasakan cinta. Aku akan membuatnya terluka. Dia masih terus meminta, tapi aku tak mengerti. Satu-satunya kata yang kukenal hanyalah "tidak". Namun, dia terus meminta.
Minggu pertama itu terus kupandangi diriku. Apa yang dilihatnya pada diriku? Warna mataku masih tetap suram, seperti biasa. Rambutku juga masih tetap tak beraturan. Masih terngiang kata-katanya di telingaku. Kenapa dia mencintaiku? Hatiku terlompat. ku ingin tahu. Wajahnya memucat pias saat akhirnya aku mengiyakan.
Sambil duduk di deretan belakang, dengan satu lengan memeluk bahunya (aku meniru ini dari sebuah film yang aku sudah lupa-lupa ingat), sekonyong-konyong aku mengerti, apa yang dilihat di mata masing-masing, oleh pasangan di layar itu. Masih kuingat saat kamu saling mengucapkan selamat malam. Cahaya lembut di beranda. Bibir kami bersentuhan ragu-ragu. Sepasang matanya yang berbinar-binar saat dia perlahan-lahan terbuai. Aku rela menjual jiwaku demi bisa mengulangi kembali saat itu. Suara pelan tawanya ketika ayahnya memanggil dari dalam rumah akan senantiasa menghantuiku.
Keesokan harinya dunia terasa berbeda, tidak lagi seperti dunia yang selama tujuh belas tahun ini kudiami. Ada yang berubah seiring langkah ringan kakiku menuju rumah. Dunia terasa lebih lembut. Lebih aman. Dia telah mengajariku untuk mendengarkan. Kini aku bisa merasakan sesuatu yang selama ini kucoba tak hiraukan. Untuk pertama kalinya aku bisa bicara tentang diriku. Pikiranku mulai bekerja. Kalau dia bisa begitu menyayangiku, bagaimana dengan yang lain? Keluargaku. Teman-temanku. Aku mulai membalas cinta yang kurasakan. Kemarin kudapati diriku tersenyum. Mungkin aku akan mencobanya lagi.
Sebelumnya aku menganggap cinta sebagai benda mati yang takkan pernah bisa memengaruhiku. Aku bisa melindungi diri dengan ucapan-ucapanku. Dia telah membantuku merobohkan segala kebohongan itu. Membuatku mengerti tentang cinta. Tentang kehidupan. Dia mengajariku lebih banyak daripada buku mana pun. Aku tahu siapa diriku. Sebelum bertemu dengannya, aku tak pernah tahu makna kehidupan.
by: George L. Newton III
from: Teen In; Love and Relationship
Sebelum mengenal dia, aku tidak tahu arti kehidupan. Ucapan-ucapan yang kulontarkan membuat orang-orang menjauhiku. Hari demi hari aku berbicara tentang kehidupan seolah-olah kehidupan itu adalah benda mati yang menarik minatku dengan cara yang paling abstrak. Aku hanyalah rongga kosong yang diisi oleh ucapan-ucapan orang lain. Aku domba yang dengan mudahnya dituntun kemana saja.
Aku mengisi kepalaku dengan kebohongan-kebohongan. Aku bisa meyakinkan diriku," Aku tidak kesepian. Aku tidak butuh cinta." Tapi dia bisa membaca isi hatiku sesungguhnya. Dia mencoba menarikku kembali ke dalam kehidupan, tapi aku bertahan. Aku tak sanggup merasakan cinta. Aku akan membuatnya terluka. Dia masih terus meminta, tapi aku tak mengerti. Satu-satunya kata yang kukenal hanyalah "tidak". Namun, dia terus meminta.
Minggu pertama itu terus kupandangi diriku. Apa yang dilihatnya pada diriku? Warna mataku masih tetap suram, seperti biasa. Rambutku juga masih tetap tak beraturan. Masih terngiang kata-katanya di telingaku. Kenapa dia mencintaiku? Hatiku terlompat. ku ingin tahu. Wajahnya memucat pias saat akhirnya aku mengiyakan.
Sambil duduk di deretan belakang, dengan satu lengan memeluk bahunya (aku meniru ini dari sebuah film yang aku sudah lupa-lupa ingat), sekonyong-konyong aku mengerti, apa yang dilihat di mata masing-masing, oleh pasangan di layar itu. Masih kuingat saat kamu saling mengucapkan selamat malam. Cahaya lembut di beranda. Bibir kami bersentuhan ragu-ragu. Sepasang matanya yang berbinar-binar saat dia perlahan-lahan terbuai. Aku rela menjual jiwaku demi bisa mengulangi kembali saat itu. Suara pelan tawanya ketika ayahnya memanggil dari dalam rumah akan senantiasa menghantuiku.
Keesokan harinya dunia terasa berbeda, tidak lagi seperti dunia yang selama tujuh belas tahun ini kudiami. Ada yang berubah seiring langkah ringan kakiku menuju rumah. Dunia terasa lebih lembut. Lebih aman. Dia telah mengajariku untuk mendengarkan. Kini aku bisa merasakan sesuatu yang selama ini kucoba tak hiraukan. Untuk pertama kalinya aku bisa bicara tentang diriku. Pikiranku mulai bekerja. Kalau dia bisa begitu menyayangiku, bagaimana dengan yang lain? Keluargaku. Teman-temanku. Aku mulai membalas cinta yang kurasakan. Kemarin kudapati diriku tersenyum. Mungkin aku akan mencobanya lagi.
Sebelumnya aku menganggap cinta sebagai benda mati yang takkan pernah bisa memengaruhiku. Aku bisa melindungi diri dengan ucapan-ucapanku. Dia telah membantuku merobohkan segala kebohongan itu. Membuatku mengerti tentang cinta. Tentang kehidupan. Dia mengajariku lebih banyak daripada buku mana pun. Aku tahu siapa diriku. Sebelum bertemu dengannya, aku tak pernah tahu makna kehidupan.
Minggu, 04 Maret 2012
Say Goodbye !
Hallo kawan-kawan semua. Akhirnya ada kesempatan buat posting juga. Kenapa judulnya gitu? ya tentu saja karena memang, TUGAS-TUGAS ARE OVEEERRR YEAAA
sebenernya udah ngerasa cukup santai waktu yang namanya PAPER itu dikumpulkan. rasanya mendadak comfortable gitu. tapi ternyata kenyamanan itu ga berlangsung lama, masih ada ujian paper, pidato, dan KTI. eh tiba-tiba jadi inget waktu bu ketip ngajar di kelas trus ngomong masalah KTI nya. what a pity mam, kita ga dengerin sama sekali gara-gara euforia pengumpulan paper.
dan alhamdulillah hari ini ujian paper selesaaaaaaiii
oh ya, aku mau cerita dikit tentang pengalamanku waktu malming kemarin. yap, sabtu kemarin ga sperti biasanya, aku melakukan sesuatu yang berarti. Sabtu kemarin aku, bintang, rian, via, dan dikung ke rumahnya bintang. kita disana makan MIE GALAU
saranku buat mie satu ini, kalo yang emang suka pedes dan perutnya tahan banting, silahkan coba. tapi kalo buat yang perutnya ga tahan, mending jangan deh. soalnya mie ini kayak super trap. pas dimakan rasanya enaak banget, kerasa pedesnya tuh pelan-pelan. tapi ilangnya pelan-pelan juga..
![]() |
aku awalnya santai makan itu. wah enak ya, iya enak ga pedes-pedes banget. tapi ga lama.. perutku panas. perih. berbunyi. tengtengtengtengteng menandakan aku harus stop makan karna emang PERIH BANGET.
dikugn yang suka pedes ekstrim aja ga kuat makannya. rian makan sampe mukanya merah, pokoknya ga ada yang tahan. alhasil mienya yang extreme HOT ga abis. mubazir ya. tapi siapa yang mau makan itu.
kalo kata temen-temenku mendingan mie setan. soalnya kalo mie setan pedesnya langsung, jadi kita langsung minum, langsung stop, langsung huh hah huh hah. kalo mie galau pedesnya pelan-pelan.. ilangnya jga pelan-pelan.. seperti perasaan galau yang merambat di hati. pelan-pelan tapi pasti menyakitkan..
nah, setelah makan mie galau, kita keluar buat beli nasi bungkus untuk dibagikan ke orang-orang di jalan. abis beli trus kita balik lagi ke rumah bintang. pertamanya balik dengan niatan mau pinjem mobil papanya bintang, tapi ga boleh sama papanya. yaudah deh kita bagiin nasinya naik motor.
trus sekitar jam 10an kita berangkat ke daerah kelenteng. disana banyaak banget tunawisma-tunawisma yang tidur di jalan. aku waktu itu rabun, ga pake softlens. jadi kalo mau ngasih harus dipegangin biar ga jalan kemana-mana. like a boss emang.
tapi yang jelas, malam itu aku terharu banget. aku belajar banyak dan AKU PENGEN LAGI. bapak-bapak pertama yang aku datengin adalah pak tukang becak. beliaunya lagi tidur dengan nyenyak di becaknya tanpa selimutan apapun. aku sama via bingung mau ngasihnya gimana. paknya tidur, mulet-mulet, kita mundur-mundur. sampek akhirnya bapaknya bangun soalnya kaget. hehe maaf ya pak
abis itu kita beranjak ke pak-pak lainnya. pak-pak yang kedua ini langsung bangunin temennya buat ngasih tau kalo ada makanan. beliau juga mengarahkan kami buat membagi makanan ke temen-temennya di sekitar situ. aku ngerasa seneng sekaligus ngenes. mereka liat makanan langsung dibuka trus dimakan. pasti laper banget ya. apalagi malem itu dingin dan hujan rintik-rintik. mereka apa ga punya keluarga di rumah ya? aku cuma bisa bagiin dengan hati miris.
sedikit percakapanku sama bapak-bapak tunawisma disitu
aku: pak.. orang-orang disini udah saling kenal semua ya pak?
paknya: iya mbak. senasib disini. rata-rata mulung. kalo pak yang itu mbecak, kalo yang ini biasanya mulung sama saya
aku: nggak dingin pak? *bego banget ya aku tanya gini
paknya: udah biasa mbak tidur disini..
aku: ooh.. tapi nggak kesepian kan pak, soalnya banyak temennya?
paknya: nggak mbak..
bahkan waktu di perjalanan pulang, pak-pak lain yang kita kasih nasi mendoakan semoga kita sukses dan banyak rezeki. God, kenapa mereka harus mengalami hal kayak gini? apa ga ada yang lain yang bisa aku lakuin? :(
sepulangnya aku belajar banyak hal. selama ini aku kalo disuruh makan masih ogah-ogahan. sekalinya makan juga sering ga abis trus aku tinggal gitu aja. padahal di jalan-jalan banyak yang butuh makanan. aku makanan masih suka pilih-pilih. ya Allah, maafin aku ya :(
kalo tidur aku masih suka bawel. yang kepanasan lah, yang gak pewe lah, padahal mereka tidur ga pake alas apa-apa. bahkan ga pake selimut apapun. aku yang tidur di kamar yang anget dan bersih gitu masih aja suka ngeluh. ya Allah maaaaaaaaff TT
mulai sekarang aku bakal semangat ! aku mau jadi psikiater supaya aku bisa ngopeni mereka. kalo aku jadi dokter dulu kan bisa ngobatin mereka yang sakit :D aku berharap suatu saat nanti aku punya waktu buat ngobrol lama sama mereka. ya Allah, makasih atas pengalaman ini.
aku janji kalo makan aku abisin sampe bersih, aku bakal bersyukur banyak-banyak, aku bakal ngurangin mengeluh, aku bakal memperbaiki sikapku selama ini. ya Allah makasih ya udah memberiku guru-guru seperti mereka :') uzinator yo lewat.
serius rek, sebelum aku terjun langsung, aku ga terlalu peduli dengan ungkapan "jangan ngeluh, masih banyak yang punya masalah lebih dari kamu". aku ngerasa ungkapan itu klise. tapi asli, ungkapan itu bener dan nyata. kalian coba aja sendiri kapan-kapan. lumayan nambah ilmu :)
Sabtu, 18 Februari 2012
Kehilangan Teman
halo teman-teman. lama banget ya aku ga ngeblog. asli sibuk banget, ga ada waktu men. serius ini, ga sok sibuk. selama aku ga ngeblog ada yang buka blog ku gak ? debuan banget, pasti gak ada yang buka *sebul blog dengan sedih*
hari ini aku mau curhat dikit tentang.. Kehilangan Teman. Teman.. terbaik.
so sad, doesn't it ?
ya begitulah. baru-baru ini aku dapet kabar kalo salah satu teman terbaikku ternyata ngomongin aku dan pacarku di belakang. It was so complicated. dulu waktu kelas 11 aku sering curhat ke dia tapi ternyata, curhatanku dipakai unutk membenci pacarku :')
dia gasuka pacarku karna pacarku dianggap kekanakan. dan itu berdasarkan curhatanku.
well if my bf does, I don't know why on earth he should care about my bf?
and the worst thing is, HE tells everybody about it.
maksudku, kenapa gitu ya ? penting a kamu ngurusin sampe benci segitunya? toh kamu ga ada masalah sama pacarku, kenapa kamu sampe nyebar-nyebarin sifat jelek pacarku kaya gitu? perlukah kalo kamu ga suka sama orang trus kamu koar-koar ke orang lain? perlukah kamu nyebarin curhatan lawaku ke temen-temenmu? kamu cari temen buat ngebenci pacarku? gitu? itukah temen?
selain itu mulutmu juga nyebarin ke orang-orang kalo kamu gasuka liat aku berdua sama pacarku. katanya kalo udah gitu kita lupa sama temen. dafuq is your business? orang lain lo ga masalah, biasa aja. lagian sejak masuk kelas tiga, apa kamu pernah deket lagi sama pacarku? ENGGAK HE. dia kangen main bareng sama kamu, tapi kamu udah deket sama temen yang lain. dan kamu bilang kalo pacarku lupa temen? excellent.
aku nggak habis pikir hei :)
selama ini aku percaya kamu. aku tepis omongan orang-orang yang ngejelek-jelekin kamu. I trusted you.
bahkan pacarku juga percaya sama kamu. dia menganggap kamu salah satu sahabat terbaiknya.
tapi apa yang kamu lakuin? kamu sendiri yang menghancurkan kepercayaan itu.
sebenernya aku pengen ngomong langsung sama kamu, tapi pacarku ngelarang. asalannya udah deket ujian, jangan cari masalah. okay fine
tapi inilah yang pengen aku sampein ke kamu.
1. kalo kamu masih menyebut dirimu teman, ingatkan kalo temenmu punya salah. jangan ngomongin mereka di belakang, menjelek-jelekkan mereka ke orang lain, atau bahkan nyebarin curhatan mereka e orang lain. karna kamu udah dipercaya, dan seperti yang kamu tahu, mendapatkan kepercayaan itu ga segampang mbunderi LJK.
kalo aku bilang gini kamu bisa aja ngeles, udah gede masa gatau salahnya sendiri?
sekarang aku mau nanya, salahkah kalo kita diintrospeksi orang lain? salahkah kalo kita minta diingatkan? bukankah sahabat akan selalu berkata terus terang pada sahabatnya?
2. berhenti ngurusi sifat orang lain, urusin dirimu sendiri.
3. tutup mulutmu sebelum orang lain yang menutupnya. jaga kepercayaan orang-orang sama kamu sebelum nggak ada lagi yang mau percaya sama kamu.
kamu tau? begitu aku tau kalo di belakangku kamu kaya gitu, aku pengen nangis. aku kecewa. aku sama sekali nggak pernah berharap pertemanan kita berakhir. kamu salah satu sahabat terbaikku, kamu juga pernah ngehapus airmataku waktu aku nangis, kamu juga yang memukul pundakku waktu aku down dan bilang," semangat jor!"
kenapa aku harus kehilangan teman seperti kamu?
aku harap kamu baca ini. tapi gatau juga kamu tau alamat blogku apa enggak.
hari ini aku mau curhat dikit tentang.. Kehilangan Teman. Teman.. terbaik.
so sad, doesn't it ?
ya begitulah. baru-baru ini aku dapet kabar kalo salah satu teman terbaikku ternyata ngomongin aku dan pacarku di belakang. It was so complicated. dulu waktu kelas 11 aku sering curhat ke dia tapi ternyata, curhatanku dipakai unutk membenci pacarku :')
dia gasuka pacarku karna pacarku dianggap kekanakan. dan itu berdasarkan curhatanku.
well if my bf does, I don't know why on earth he should care about my bf?
and the worst thing is, HE tells everybody about it.
maksudku, kenapa gitu ya ? penting a kamu ngurusin sampe benci segitunya? toh kamu ga ada masalah sama pacarku, kenapa kamu sampe nyebar-nyebarin sifat jelek pacarku kaya gitu? perlukah kalo kamu ga suka sama orang trus kamu koar-koar ke orang lain? perlukah kamu nyebarin curhatan lawaku ke temen-temenmu? kamu cari temen buat ngebenci pacarku? gitu? itukah temen?
selain itu mulutmu juga nyebarin ke orang-orang kalo kamu gasuka liat aku berdua sama pacarku. katanya kalo udah gitu kita lupa sama temen. dafuq is your business? orang lain lo ga masalah, biasa aja. lagian sejak masuk kelas tiga, apa kamu pernah deket lagi sama pacarku? ENGGAK HE. dia kangen main bareng sama kamu, tapi kamu udah deket sama temen yang lain. dan kamu bilang kalo pacarku lupa temen? excellent.
aku nggak habis pikir hei :)
selama ini aku percaya kamu. aku tepis omongan orang-orang yang ngejelek-jelekin kamu. I trusted you.
bahkan pacarku juga percaya sama kamu. dia menganggap kamu salah satu sahabat terbaiknya.
tapi apa yang kamu lakuin? kamu sendiri yang menghancurkan kepercayaan itu.
sebenernya aku pengen ngomong langsung sama kamu, tapi pacarku ngelarang. asalannya udah deket ujian, jangan cari masalah. okay fine
tapi inilah yang pengen aku sampein ke kamu.
1. kalo kamu masih menyebut dirimu teman, ingatkan kalo temenmu punya salah. jangan ngomongin mereka di belakang, menjelek-jelekkan mereka ke orang lain, atau bahkan nyebarin curhatan mereka e orang lain. karna kamu udah dipercaya, dan seperti yang kamu tahu, mendapatkan kepercayaan itu ga segampang mbunderi LJK.
kalo aku bilang gini kamu bisa aja ngeles, udah gede masa gatau salahnya sendiri?
sekarang aku mau nanya, salahkah kalo kita diintrospeksi orang lain? salahkah kalo kita minta diingatkan? bukankah sahabat akan selalu berkata terus terang pada sahabatnya?
2. berhenti ngurusi sifat orang lain, urusin dirimu sendiri.
3. tutup mulutmu sebelum orang lain yang menutupnya. jaga kepercayaan orang-orang sama kamu sebelum nggak ada lagi yang mau percaya sama kamu.
kamu tau? begitu aku tau kalo di belakangku kamu kaya gitu, aku pengen nangis. aku kecewa. aku sama sekali nggak pernah berharap pertemanan kita berakhir. kamu salah satu sahabat terbaikku, kamu juga pernah ngehapus airmataku waktu aku nangis, kamu juga yang memukul pundakku waktu aku down dan bilang," semangat jor!"
kenapa aku harus kehilangan teman seperti kamu?
aku harap kamu baca ini. tapi gatau juga kamu tau alamat blogku apa enggak.
setiap aku males belajar
aku selalu memutar lagu Mocca - On the Nite Like This
dan tiap kali aku dengerin lagu itu
di otakku langsung muncul bayangan
aku, kamu, pacarku, dan temen-temen terbaikku
berjalan ke Nevasca
dengan hati seneng dan muka tanpa beban karna udah LULUS
tapi sekarang
bayanganku telah hilang satu
Minggu, 29 Januari 2012
Rabu, 25 Januari 2012
An Undelivered Message
Dear my beloved teacher, Mrs. U.
pertama-tama saya ucapkan bahwa surat yang saya ketikkan untuk Ibu ini tidak akan pernah sampai pada Ibu. kenapa? ya, karna saya takut sama Ibu. saya takut Ibu nekek saya atau bahkan ngejatohin nilai saya, atau mungkin membenamkan saya di lautan api kemarahan Ibu. Surat yang tak akan pernah sampai ini, memang hanya sebuah surat :)
Hari ini saya merasa sangat kecewa pada Ibu. sangat mendalam kecewanya. Ibarat laut, rasa kecewa saya adalah palung laut tak berbatas dalamnya. Mengapa ? Karna pemikiran positif saya terhadap Ibu selama ini telah RUSAK karna hal kecil.
Saya merasa sangat kasihan pada teman saya, Mbong, yang Ibu hina-hina. Bu, dia itu ditanyain D. DITANYAIN. kalau Ibu bilang si D tidak bakal bertanya pada Mbong jika saat itu Mbong sedang tidak nganggur, apakah itu berarti Mbong harus membiarkan D melongo karna pertanyaannya tidak dijawab ? Jangan mentang-mentang D salah satu murid kesayangan Ibu jadinya Ibu bela. Kalau begitu dimanakah letak keadilannya ? Dan seandainya engkau tahu wahai ibu, saat itu Mbong juga sedang berjalan menuju kelas untung mengerjakan proyek. Bu, jalan ke kelas XII IPA2 itu tidak hanya 1. Banyak jalan, bu. Selain itu Ibu tidak memberikan Mbong kesempatan untuk mengemukakan alasan. Ibu ingin didengar tapi tidak ingin mendengar, ada apa dengan Ibu?
yang kedua Ibu selalu mengatakan bahwa kelompok saya tidak niat dalam menjalankan proyek tersebut. Ibu bilang kami semua menyepelekan pelajaran Fisika. Bu, Ibu tidak tahu betapa keras perjuangan kami membuat proyek itu. Memang kesalahan ada pada kami yang tidak mengerjakan dengan segera, kami minta maaf sekali atas hal itu. Tapi setidaknya, jangan menjatuhkan kami Bu. Jangan menghakimi kami seenak Ibu sendiri. Ibu tidak tahu apa dampak dari apa yang sudah Ibu lakukan, bukan? Ibu bilang kami menyepelekan? Oh Ibu ketahuilah, pelajaran-pelajaran semacam PPKn, Sejarah, dan semacamnya itu cemburu pada pelajaran Ibu. Karena kami selalu mengutamakan pelajaran MIPA. masih kurangkah Ibu kami nomor satukan? Ibu minta dihargai tapi tidak mau menghargai, ada apa dengan Ibu?
Ketiga, ini berkaitan dengan saya. Bu, tadi itu saya berniat untuk membantu menjawab teman saya. Mereka bingung mau menjawab pertanyaan Ibu bagaimana. Daripada diem trus membiarkan Ibu mengetrek-etrek temen-temen saya, mending saya bicara. Siapa tahu omongan saya bisa memancing teman-teman untuk menambahkan opini. Eh tapi apa yang Ibu lakukan ?
Saya memang salah dalam menjawab pertanyaan Ibu. Atau lebih tepatnya, saya salah menjawab pertanyaan Ibu, harusnya tidak usah dijawab saja.
Ibu menyepelekan saya karna Ibu menganggap saya menyepelekan Ibu. Itu kan anggapan Ibu saja, faktanya mana Ibu tahu? Siapa juga yang menyepelekan? Atau Ibu mau disepelekan? Kenapa Ibu terus-terusan berpikir negatif? Hidup Ibu tidak bahagia ya? Konsultasi sama mama saya aja yuk Bu. kata mama gratis loh buat Ibu.
Lagipula jika Ibu seperti itu pada saya, berarti Ibu berprinsip bahwa kejahatan dibalas dengan kejahatan! Apakah itu yang seharusnya diajarkan seorang pendidik ? Inget umur buk. doh.
Tapi mengabaikan semua itu saya minta maaf atas semua kesalahan saya. Saya mengerti, menjadi guru pasti tidaklah mudah, dan saya masih terlalu kecil untuk memahaminya. Menjadi wanita dewasa juga tidak mudah, saya sudah melihatnya sendiri. Namun, saya juga masih terlalu kecil untuk memahaminya. Saya masih sangat butuh banyak belajar Bu. Saya memang belum bisa Fisika, tapi sebaikanya Ibu tidak meremehkan saya karna LIAT AJA PAS UNAS NILAI SAYA BU ! hos hos
saya akan berjuang sekuat tenaga untuk membuktikan pada Ibu, bahwa saya bukan orang yang bodoh :)
Dan dengan ini, saya menyatakan, saya males ngomong sama Ibu lagi. Sekian dan terima kasih.
pertama-tama saya ucapkan bahwa surat yang saya ketikkan untuk Ibu ini tidak akan pernah sampai pada Ibu. kenapa? ya, karna saya takut sama Ibu. saya takut Ibu nekek saya atau bahkan ngejatohin nilai saya, atau mungkin membenamkan saya di lautan api kemarahan Ibu. Surat yang tak akan pernah sampai ini, memang hanya sebuah surat :)
Hari ini saya merasa sangat kecewa pada Ibu. sangat mendalam kecewanya. Ibarat laut, rasa kecewa saya adalah palung laut tak berbatas dalamnya. Mengapa ? Karna pemikiran positif saya terhadap Ibu selama ini telah RUSAK karna hal kecil.
Saya merasa sangat kasihan pada teman saya, Mbong, yang Ibu hina-hina. Bu, dia itu ditanyain D. DITANYAIN. kalau Ibu bilang si D tidak bakal bertanya pada Mbong jika saat itu Mbong sedang tidak nganggur, apakah itu berarti Mbong harus membiarkan D melongo karna pertanyaannya tidak dijawab ? Jangan mentang-mentang D salah satu murid kesayangan Ibu jadinya Ibu bela. Kalau begitu dimanakah letak keadilannya ? Dan seandainya engkau tahu wahai ibu, saat itu Mbong juga sedang berjalan menuju kelas untung mengerjakan proyek. Bu, jalan ke kelas XII IPA2 itu tidak hanya 1. Banyak jalan, bu. Selain itu Ibu tidak memberikan Mbong kesempatan untuk mengemukakan alasan. Ibu ingin didengar tapi tidak ingin mendengar, ada apa dengan Ibu?
yang kedua Ibu selalu mengatakan bahwa kelompok saya tidak niat dalam menjalankan proyek tersebut. Ibu bilang kami semua menyepelekan pelajaran Fisika. Bu, Ibu tidak tahu betapa keras perjuangan kami membuat proyek itu. Memang kesalahan ada pada kami yang tidak mengerjakan dengan segera, kami minta maaf sekali atas hal itu. Tapi setidaknya, jangan menjatuhkan kami Bu. Jangan menghakimi kami seenak Ibu sendiri. Ibu tidak tahu apa dampak dari apa yang sudah Ibu lakukan, bukan? Ibu bilang kami menyepelekan? Oh Ibu ketahuilah, pelajaran-pelajaran semacam PPKn, Sejarah, dan semacamnya itu cemburu pada pelajaran Ibu. Karena kami selalu mengutamakan pelajaran MIPA. masih kurangkah Ibu kami nomor satukan? Ibu minta dihargai tapi tidak mau menghargai, ada apa dengan Ibu?
Ketiga, ini berkaitan dengan saya. Bu, tadi itu saya berniat untuk membantu menjawab teman saya. Mereka bingung mau menjawab pertanyaan Ibu bagaimana. Daripada diem trus membiarkan Ibu mengetrek-etrek temen-temen saya, mending saya bicara. Siapa tahu omongan saya bisa memancing teman-teman untuk menambahkan opini. Eh tapi apa yang Ibu lakukan ?
Saya memang salah dalam menjawab pertanyaan Ibu. Atau lebih tepatnya, saya salah menjawab pertanyaan Ibu, harusnya tidak usah dijawab saja.
Ibu menyepelekan saya karna Ibu menganggap saya menyepelekan Ibu. Itu kan anggapan Ibu saja, faktanya mana Ibu tahu? Siapa juga yang menyepelekan? Atau Ibu mau disepelekan? Kenapa Ibu terus-terusan berpikir negatif? Hidup Ibu tidak bahagia ya? Konsultasi sama mama saya aja yuk Bu. kata mama gratis loh buat Ibu.
Lagipula jika Ibu seperti itu pada saya, berarti Ibu berprinsip bahwa kejahatan dibalas dengan kejahatan! Apakah itu yang seharusnya diajarkan seorang pendidik ? Inget umur buk. doh.
Tapi mengabaikan semua itu saya minta maaf atas semua kesalahan saya. Saya mengerti, menjadi guru pasti tidaklah mudah, dan saya masih terlalu kecil untuk memahaminya. Menjadi wanita dewasa juga tidak mudah, saya sudah melihatnya sendiri. Namun, saya juga masih terlalu kecil untuk memahaminya. Saya masih sangat butuh banyak belajar Bu. Saya memang belum bisa Fisika, tapi sebaikanya Ibu tidak meremehkan saya karna LIAT AJA PAS UNAS NILAI SAYA BU ! hos hos
saya akan berjuang sekuat tenaga untuk membuktikan pada Ibu, bahwa saya bukan orang yang bodoh :)
Dan dengan ini, saya menyatakan, saya males ngomong sama Ibu lagi. Sekian dan terima kasih.
Dengan hormat yang sudah di ambang kehancuran
Muridmu
Senin, 23 Januari 2012
daripada pusing
halo bloggy. sudah 2 hari ini tidurku nyenyak dan puas sekali. tidur jam 12 bangun jam 8. tepat 8 jam. sehat banget.
dibanding hari biasanya? tidur jam 11 bangun jam 5 -_-
oke, berhubung aku ngga tau PR besok apa, and i don't really care, marilah kita bersenang-senang dengan imajinasi kita.
cerita kali ini adalah imajinasiku digabung sama imajinasi dari Rian. pertamanya kita ngobrol tentang kurikulum Indonesia yang menyedihkan. yap, kalo ga menempuh pendidikan formal, masa depan kita bisa dipastikan suram. bandingin sama di luar negeri, mereka belajar apa yang mereka suka dari awal. tentunya kalo kaya gitu bakal bikin mereka lebih ahli di bidangnya. ah seandainya di Indonesia ada yang kaya gitu, aku bakal masuk sekolah musik dan Rian bakal masuk ke sekolah sepak bola. I don;t care about those formal-lesson-stuffs.
nah trus kami bikin suatu cerita seandainya hal itu bener-bener terjadi, bagaimana kita akan bertemu ?
dibanding hari biasanya? tidur jam 11 bangun jam 5 -_-
oke, berhubung aku ngga tau PR besok apa, and i don't really care, marilah kita bersenang-senang dengan imajinasi kita.
cerita kali ini adalah imajinasiku digabung sama imajinasi dari Rian. pertamanya kita ngobrol tentang kurikulum Indonesia yang menyedihkan. yap, kalo ga menempuh pendidikan formal, masa depan kita bisa dipastikan suram. bandingin sama di luar negeri, mereka belajar apa yang mereka suka dari awal. tentunya kalo kaya gitu bakal bikin mereka lebih ahli di bidangnya. ah seandainya di Indonesia ada yang kaya gitu, aku bakal masuk sekolah musik dan Rian bakal masuk ke sekolah sepak bola. I don;t care about those formal-lesson-stuffs.
nah trus kami bikin suatu cerita seandainya hal itu bener-bener terjadi, bagaimana kita akan bertemu ?
tunggu postingan selanjutnya :p
Langganan:
Postingan (Atom)


